LEGENDA PULAU MENGARE & ASAL USUL DESA TAJUNGWIDORO
LEGENDA PULAU MENGARE & ASAL USUL DESA TAJUNGWIDORO
ASAL USUL WILAYAH MENGARE Mengare adalah sebuah wilayah yang terletak
di wilayah kecamatan Bungah, daerah ini merupakan pulai kecil dan hamper
seluruh wilayahnya merupakan lembah atau tanah “Ngarai”, mungkin dari
kata ngarai inilah yang menyebabkan wilayah ini dinamakan “Mengare”.
Mengare terdiri dari tiga Desa yaitu : Watuagung, Kramat dan
Tajungwidoro. Adapun letaknya di sebelah selatan yang dibatasi oleh
wilayah kecamatan Manyar dan sebelah barat berbatasan dengan desa
Bedanten dan di sebelah utara dan timur merupakan laut jawa yang
merupakan perbatasan selat Madura.
Adapun asal usul kejadiannya
merupakan legenda adalah berasal dari seekor ular raksasa yang menurut
cerita ular ini berasal dari Solo Jawa Tengah yang jatuh cinta dan ingin
melamar putri solo, tetapi sang ptri tidak mau dan lari entah kemana,
sang ular terus mencari dengan menelusuri bengawan solo hingga sampai ke
muaranyadi laut jawa, setelah berbulan – bulan sang putri tidak di
ketemukan ular raksasa tersebut merasa kepayahan dan putus asa, akhirnya
berhenti di muara itu dan melingkar bertapa sampai bertahun tahun
hingga terendam dan menjadi daratan yang sekarang di kenal dengan
sebutan Mengare.
II. ASAL USUL DESA TAJUNGWIDORO Tajungwidoro
merupakan salah satu desa yang berada di Wilayah Mengare, nama
Tajungwidoro atau Ujungdoro ini diambil dari petualangan salah seorang
tokoh yang menurut cerita dalam babat tanah Mengare bernama Joko
Mustopo, Joko Mustopo ini adalah tokoh sakti yang memiliki dua senjata
Gongseng kencono dan Caluk Cerancam, kedua senjata ini mempunyai fungsi
yang berbeda, tatapi keduanya saling mendukung peran bagi pemiliknya,
karena Gongseng Kencono dapat digunakan untuk berjalan di atas air
sedangkan Caluk Cerancam bisa membawa pemiliknya terbang.
Konon
Caluk Cerancam ini merupakan pemberian dari seorang janda tua yang
merupakan gurunya dan sekaligus merupakan ibu angkatnya. Adapun Gongseng
Kencono ini berasal dari seekor binatang yaitu babi hutan atau celeng
yang direbut oleh Joko Mustopo, karena Joko Mustopo sangat tertarik
dengan kesaktian Celeng tersebut yang bisa berjalan di atas air.
Menurut cerita Joko Mustopo sedang berada di muara bengawan solo yang
terletak di ujung timur utara wilayah Mengare, ketika iut sedang melihat
ada seekor babi lautan yang sedang berjalan di atas air menuju ke
arahnya menetang ingin mengajak berperang, Joko Mustopo hamper kewalahan
menghadapinya, tetapi pada akhirnya kalung di leher celeng yang berupa
Gongseng Kencono itu dapat di rebut dan Babi hutan berlari kea rah barat
dan meniggal di pinggir sungai dan konon akhirnya menjadi sebuah batu
yang berbentuk Celeng dan daerah ini sekarang dinamakan Watu Celeng.
Setelah ditinggal lari oleh Babi Hutan yang telah dikalahkan tadi, Joko
Mustopo merasa lapar dan haus kemudian ia berjalan menelusuri pantai
dan menemukan banyak tumbuhan “Doro” yaitu pohon yang tangkai dan
rantingnya sedikit berduri tetapi buahnya manis, buah inilah yang dapat
menolong Joko Mustopo dari rasa laparnya, kemudian dia berucap “Besok
nek ono rejane jaman deso iki tak arani Ujungdoro” sekarang dikenal
dengan nama “Tajungwidoro” yang menurut analisa berasal dari “Tanjung
wit doro”.
Desa ini sekarang terdapat enam dusun yang masing –
masing dusun memiliki sejarah dusun – dusun itu adalah Tanjungsari -
sidorukun, dusun Pesisir barat – Dusun Sumber sari, dusun Salafiah dan
dusun Sidofajar atau Pesanggraan.
Salah satu sejarah dusun yang unik
adalah dusun Sumber Sari, dinamakan Sumber Sari karena di situ terdapat
sebuah sumur yang airnya tidak pernah habis walaupun telah diambil oleh
seluruh warga desa untuk air minum, konon sumur ini merupakan sumur
buatan seorang wali yang diperlakukan tidak adil oleh salah seorang
warga. Menurut cerita ada orang lewat dan merasa haus, dan di kampung
tersebut ada warga yang memiliki pohon tebu,orang asing itu minta tetapi
tidak diberi, malah tebu yang dimilikinya itu dikatakan bukan tebu
tetapi pohon perumpung, lalu orang asing itu berucap “Mugo – mugo dadio
perumpung temenan” (mudah – mudahan jadi perumpung sungguhan), maka
benar pohon tebu itu jadi pohon perumpung. Kemudian orang asing itu
dengan tangannya tanpa menggunakan bantuan alat apapun mengali tanah
yang berbatu dan akhirnya keluar sumber mata air yang luar biasa
jernihnya, sampai sekarang sumur yang kedalamannya hanya kurang lebih 75
cm itu dijadikan suber air minum warga Desa Tajungwidoro.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar